|

Tenaga Pendidik Iya, Bendahara Desa Iya, Anggota PPS Iya, Kok Lakukan Cabul ? Etika & Moral Kurang Kali Ya.

ilustrasi (Int)


P.SUSU - Mungkin, kurangnya penanaman etika dan moral kepada guru dari dinas terkait sebagai tenaga pendidik berpeluang besar menjadi dalang terjadinya tindakan asusila yang dilakukan oleh oknun guru kepada siswinya, ga percaya ? nih buktinya.

Dilansir dari portal online halKAhalKI.com, kasus pelecehan seksual terhadap anak di Bumi Langkat bertuah kembali membuat masyarakat mengerenyitkan dahi. Baru kemarin membekas diingatan kasus pencabulan terhadap beberapa orang anak yang diduga di Lakukan oknum Kepala Desa Harapan Maju Kecamatan Sei Lepan, kali ini kasus yang sama kembali terulang, mirisnya pelaku adalah oknum tenaga pengajar, sadis bah !

Adalah Mar (30) oknum Guru honorer yang mengajar di SD Negeri 056642 Dusun V Kampung Baru Pangkalan Siata (Pangkalan Susu), terindikasi kuat mencabuli empat orang siswinya. Mereka adalah F.Z dan D.R siswi kelas lll, S.A dan AH siswi kelas V.

"Sudah dilaporkan Ke Polsek Pangkalan Susu, untuk info lanjut silahkan awak media konfirmasi ke Mapolsek" ujar Cici, guru Bimbingan Konseling (BK) menyarankan, Kamis (14/9/2018).

Sementara itu, Kapolsek Pangkalan Susu AKP Selamat Riyadi membenarkan kasus tersebut akan dilaporkan ke Polsek Pangkalan Susu.

"Benar, kemaren mereka datang ke Polsek, akan melaporkan kasus tersebut. Dan mereka ditemui Kanit Reskrim dan di karenakan Polsek tidak memiliki PPA (Perlindungan Perempuan dan Anaknya) kami arahkan untuk ke Polres Langkat membuat laporannya. Karena unit PPA cuma ada di Polres Langkat," kata Kapolsek.

** Selain Oknum Guru Honor, MAR Ternyata Anggota PPS Pilkada 2018 **

Menariknya, selain oknum guru di SD Negeri 056642, pelaku (baca : MAR) juga tercatat sebagai Bendahara Desa Pangkalan Siata dan Panitia Pemungutan Suara (PPS) pilkada serentak 2018 lalu, weleh,,weleh.

Camat Pangkalan Susu Tengku Fahrizal Azmi mengakui telah mendengar kasus pencabulan tersebut dan telah menghubungi Kepala Desa Pangkalan Siata.

"Ya, saya telah mendengar permasalahan tersebut dan telah menghubungi Kepala Desanya. Saya juga telah memecat Mar dari kedudukannya sebagai Bendahara Desa Pangkalan Siata tinggal proses administrasinya lagi, terkait kedudukannya sebagai PPS di Desa Pangkalan Siata, saya juga telah berkoordinasi dengan PPK (Panitia Pemilihan Kecamatan,red)". ujar Azmi.

Tak hanya itu, kasus cabul ini juga menimbulkan simpatik bagi sang camat dan mengaku siap memfasilitasi korban dan keluarganya untuk melaporkan kasus ke Pusat Pelayanan Terpadu Perempuan dan Anaknya (P2TP2A) Kabupaten Langkat.

** Terungkap Kasus Cabul Berdamai, Benarkah ? **

Mirisnya lagi, beredar rumors dikalangan media bahwa kasus cabul tersebut telah menemui titik damai antara keluarga korban dan pelaku atas prakarsa oknum Kepala Desa Pangkalan Siata yang notabene adalah abang ipar dari pelaku, Mar.

"Ya.. telah didamaikan Kadesnya dan telah saya katakan sama kades itu untuk tidak mengintervensi kasus itu," pungkas Tengku Fahrizal Azmi.

Sekedar menyegarkan ingatan pembaca langkatpriayi.com, ketentuan mengenai percabulan dalam UU 35/2014 sebagai berikut : Pasal 76E (Setiap Orang dilarang melakukan Kekerasan atau ancaman Kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, melakukan serangkaian kebohongan, atau membujuk Anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul.

Sedangkan pasal 82 berbunyi, (1) Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76E dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

(2) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Orang Tua, Wali, pengasuh Anak, pendidik, atau tenaga kependidikan, maka  pidananya ditambah 1/3 (sepertiga) dari ancaman pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Ditulis ulang oleh : M Piliang

sumber berita : HalkaHalki.com
Komentar

Berita Terkini